Pengalaman di Ruang Sidang
Kemarin, senin(27/07/06) aku ke Pengadilan Negeri Surabaya untuk mengurus surat tilang, karena lupa menyalakan lampu. Belum sampai di depan gerbang masuk, aku sudah dicegat oleh para calo persidangan. Aku tidak menghiraukan mereka, lalu langsung masuk ke tempat parkir, untuk kemudian menuju loket tilang (yang hanya berjarak 5 - 10 langkah). Lagi-lagi aku didatangi calo yang sekali lagi-lagi aku abaikan. Diloket itu aku tunjukkan berkas tilang yang aku terima, lalu orang di loket itu mengatakan untuk menuju ruang sidang disisi tengah gedung utama untuk disidang jam 9. Aku masuk untuk kemudian diterima oleh petugas yang berjaga di pintu masuk. Oleh petugas aku ditanya surat tilangku, aku berikan, kemudian dia berkata, “Mas, silahkan tunggu dulu, nanti akan diproses dan selesai sekitar jam 11″. DEG!!!, dalam hati aku mulai ragu, kok beda waktunya bisa terpaut 2 jam antara loket depan dan petugas ini. Karena curiga aku bertanya “Lho, tadi didepan katanya jam 9?”, kemudian dijawab sambil menunjuk nomor tilang punyaku (18792271) “Iya, tapi nomor urut sampeyan besar”. DUENG!!! dalam hati aku mikir, gila juga ini orang. Di depan pintu masuk ditulis besar-besar “JANGAN MENGURUS SURAT TILANG ANDA MELALUI CALO” (atau seperti itulah tulisannya, maklum ga’ terlalu ingat). Tetapi aku hampir jadi korban calo dari orang dalam pengadilan sendiri. Akhirnya aku ambil lagi surat tilang dari dia dan langsung masuk ke gedung utama.
Menunggu sidang buka jam 9, ternyata tidak terasa terlalu lama, karena aku habiskan dengan keliling gedung pengadilan, meilhat-lihat fasilitas yang ada. Jam setengah 9 ruang sidang dibuka, lalu jam 9 lebih 10 menit sidang dimulai. Petugas kemudian membacakan peraturan yang hanya terdengar sekilas :
- Peserta sidang akan dipanggil per 100 orang urut berdasarkan 3 digit terakhir dari surat tilang-nya
- Peserta yang mewakilkan sidang harus membawa surat kuasa.
Karena aku nomor urut 271, berarti akan maju di pemanggilan ke-3.
Ketika tiba giliranku, aku menyerahkan surat tilang, kemudian dipanggil. Hakim bertanya apa kesalahannya, kemudian aku jawab “Lupa menyalakan lampu pak!”, “Oh, ya sudah denda Rp 20.000,- ya”, “Iya, terima kasih pak”, aku maju mengambil surat tilang yang sudah ditandai selesai sidang untuk dibawa ke loket yang pertama kali aku datangi tadi, untuk membayar denda dan mengambil SIM yang ditahan. Sampai loket aku menyerahkan surat tilang tadi, kemudian menunggu sebentar sampai dipanggil kembali. Saat dipanggil aku bayar Rp 20.000,- ditambah denda Rp 500,-, SIM aku dikembalikan dan urusan selesai. Kulihat jam ternyata belum jam 9:45. Tunggu dulu, jadi prosesnya cuman sekitar 30 menit??? Sialan itu tukang calo, ngapain coba ikut calo yang katanya bisa habis sekitar 40 - 50 ribuan dan baru selesai jam 11 kalau proses sendiri bisa selesai sebentar dan biaya yang lebih murah!!!.
Lupa nyalain lampu? siang hari rif?
masak kalo malam kamu lupa nyalain lampu?
–budiw
Comment by budiwijaya — July 12, 2006 @ 6:57 am
wah, info yang sangat berguna … thanks for sharing …
Comment by aldi — July 12, 2006 @ 7:49 am
1# iya, memang gue bener2 lupa. Sialnya koq lupa pas polisi lagi patroli
.
2# ada lagi sarannya, kalo kamu mewakilkan orang, trus pak Hakim nanya apakah kamu bla…bla…bla…(nama yang tertera si surat tilang) bilang aja iya, trus sebutkan kesalahanmu (tanya dulu sama temenmu, apa kesalahannya). Soalnya kalo kamu mewakilkan orang, mesti bawa surat kuasa.
Comment by Arief Bayu Purwanto — July 12, 2006 @ 8:21 am
Nyalakan lampu di siang hari!! Nyalakan lampu di malam hari!! Nyalakan lampu waktu persidangan…LOh…koq???
:D
Comment by romadhoni — July 12, 2006 @ 9:00 am
wahk..sialan, keduluan Arief nulis pengalaman sidang tilang di pengadilan. Gw sendiri disidang tahun 2000…errr…nyusul aza ah di blog gw nulisnya, xixixi…:p
*injek2 Arief…nduluin nulis tema yg sama….HUH!!!!*
Comment by Junkerz side B — July 12, 2006 @ 10:32 am
huh … klo gt mending klo ketilang ke pengadilan aja yak … selaen harganya hampir sma dgn byr tuh cecunguk pollisi gila duit … ke pengadilan juga bisa sekaligus rekreasi …
Comment by Ririn — July 12, 2006 @ 12:56 pm
Wow.. salut boss… pertama kalinya gw baca sidang buat tilang neh.. kudu disebarin buat org2 baca.. thx for sharing!
Comment by a0z0ra — July 12, 2006 @ 6:32 pm
#5:Salah sendiri ada pengalaman ga’ di share!!! :p
#6:Iya rin, memang bisa sebagai rekreasi koq, liat2 ruang sidang yang ada.
#7:Monggo, silahkan di sebarkan kalau memang bermanfaat.
Comment by Arief Bayu Purwanto — July 13, 2006 @ 1:09 am
lho, kok polisinya tau kamu lupa menyalakan lampu rumah?
kamu bawa rumah kemana-mana ya?
*polos*
Comment by andika — July 13, 2006 @ 4:54 am
Huehehehe…
Bagian ini lu miss ‘rief…
Begitu masuk ruang sidang, terlihatlah manusia-manusia berjubel lengkap dengan berbagai macam gaya.. yang mana pak hakim hari ini akan menyidang seribuan terpidana.. eh tertilang..
Yang lucu apa…
Bukan kayak lu rief dipanggil urut dari no 1 .. 100
Kalo di Pengadilan Jakarta Pusat,
kan baru masuk, kita kasih deh tu surat tilang ama petugas… ditumpuk…
Nah.. yg td kertas tilang gw dibawah… dibalik.. skrg jd diatas… asikk
Eh udah diatas ada yg nambahin lagi.. jadinya di tengah.. wah bakal lama..
Trus disortir ama pak pulisi ama petugas sidang untuk diambilkan SIM / STNK-nya..
Siapa yg duluan ketemu SIM / STNK-nya dipindah ke meja hakim..
Nah org-org inilah yang duluan dipanggil ke depan..
Di kursi pesakitan.. sekali duduk lima orang…
Di sidang koq rame-rame… ahhh… ngga ada lu ngga rame.. kata yg lain huehehehe..
Jadi cepat atau lambatnya tergantung nasib…
Untungnya.. 10 menit sidang berlalu, kertas tilang gw dibacain…
Allamak senangnya…
Eh misi-misi.. numpang lewat mau ke meja hakim… woii pak geser dikit dong..
Aduh misi-misi.. kaki gw keinjek…
Ahhh… jika teringat masa-masa itu…
Comment by Charly Silaban — July 13, 2006 @ 9:08 am
LAW and The Police use some method to take your money
Comment by Jauhari — September 28, 2006 @ 7:03 am